Press "Enter" to skip to content

LEARNING AND LEADERSHIP POINT DARI FILM “PAY IT FORWARD”

avidwijaya 0
  1. Definisi Learning

Berangkat dari pertanyaan, Eugene memberikan tugas kepada para muridnya untuk membuat sebuah program nyata, demi mewujudkan dunia yang lebih baik. Berbagai ide dikemukakan, namun ide Trevor yang mampu menarik minat Eugene. Idenya simple, dimulai dengan sebuah memberikan bantuan kepada orang yang dirasa membutuhkan. Bantuan tersebut bukannya tanpa pamrih. Sebagai balasannya, orang yang telah dibantu tersebut diharapkan membalas bantuan yang diberikan kepada tiga orang lain yang membutuhkan bantuan.  Ide tersebut bermula ketika trevor melakukan pengamatan langsung ke suatu tempat yang kumuh dimana terdapat suatu kumpulan orang-orang pecandu narkoba dan peminum berat. Dari situ muncul konsep “Pay it Forward”.  Dari cerita tersebut dapat disimpulkan bahwa Learning  merupakan suatu proses untuk berinteraksi dengan dunia luar sehingga kita akan mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Dan dengan melakukan pengamatan secara langsung maka akan tergali berbagi suatu ide yang belum kita pikirkan sebelumnya. Kadang belajar sesuatau baru itu yang dianggap aneh, gila, sulit,  membebani adalah perasaan yang muncul diawal. Namun ketika kita berani mnyentuh hal tersebut maka hal itu tidak ada apa-apanya.

  1. Falsafah Leadership

Dalam film tersebut Trevor melakukan pengamatan untuk menggali sebuah ide,  ia mempunyai inisiatif untuk membantu salah satu orang yang berada di kawasan tempat gelandangan. Trevor tetap melakukan usaha tersebut dengan konsep “Pay it Forward” yang dianggap aneh oleh teman-temannya. Trevor juga banyak mempengaruhi orang-orang yang ada disekitarnya untuk menjalankan misinya tersebut. Sehingga dari cerita film tersebut banyak falsafah kepemimpinan yang diambil yaitu suatu manfaatlah yang dapat menentukan sebuah ide dan usaha dan juga inisiatif, melihat lingkungan sekitar sebagai bahan pertimbangan dan berani mengambil keputusan yang tepat walaupun penuh dengan resiko.

  1. Respon terhadap Kesalahan dan Belajar dari Kesalahan

Ketika kita melakukan kesalahan pasti akan dibuntuti rasa menyesal dan bersalah. Dalam film “Pay it Forward tersebut” dapat diambil kesimpulan bahwa kesalahan yang dilakukan merupakan sebuah pembelajaran dalam kehidupan. Kesalahan mengajarkan kita apa yang harus kita lakukan. Dan juga jika ada orang yang melakukan kesalahan terhadap kita, harusnya kita memaafkan. Dan tidak memperpanjang persoalan kesalahan orang lain. Memaafkan mengjarkan kita untuk selalu berbesar hati dan menerima keadaan. Ada suatu perkataan yang menarik yang disampaikan oleh guru trevor yaitu , ”Keindahan dalam melakukan kesalahan adalah instropeksi diri”. Intropeksi diri perlu dilakukan agar tidak melakukan kesalahan yang sama. Sehingga perubahan yang lebih baik muncul dari dalam diri kita.

  1. Konsep “Pay it Forward”

Dalam Film tersebut konsep “Pay it Forward” bermula dari tugas seorang guru IPS bernama Eugene memberikan tugas kepada para muridnya untuk membuat sebuah proyek nyata, untu memikirkan ide untuk mengubah dunia kita dan memasukkan ke dalam sebuah tindakan.  Berbagai ide dikemukakan, namun ide Trevor yang mampu menarik minat Eugene. Idenya simple, dimulai dengan sebuah memberikan bantuan kepada orang yang dirasa membutuhkan. Bantuan tersebut harus lebih besar dan dilakukan tanpa miminta imbalan. Sebagai balasannya, orang yang telah dibantu tersebut diharapkan membalas bantuan yang diberikan kepada tiga orang lain yang membutuhkan bantuan. Konsep “Pay it Forward” ini mirip dengan konsep “Feedback”. Dalam buku Peter M. Senge (1995:71) dijelaskan terdapat suatu konsep sederhana yang disebut “feedback” yang menunjukkan bagaimana tindakan bisa memperkuat atau menyeimbangkan satu sama lain. Hal ini guna mempelajari, mengenali tipe struktur yang berulang kembali timbul dan muncul lagi. Konsep ini juga bias kita terapkan dalam kehidupan kita dan sangat workable secara tidak langsung jika kita berbuat baik kepada orang lain maka aura positif juga akan timbul dari orang lain tersebut. Dan secara tidak langsung orang tersebut dapat memahami suatu perbuatan positif tersebut dapat ditiru.

  1. Pelajaran yang dapat diambil dari film “Pay it Forward”

Banyak sekali pelajaran yang dapat diambil dari Film  “Pay it Forward” dari awal mulai cerita film dan sampai akhir. Di akhir film Trevor berkata, “I think some people are too scared or something to think things can be different. I guess it’s hard for some people who are used to thinks the way they are, even if they’re bad, to change. And they kind of give up. When they do, everybody, they kind of lose”. Terjemahannya adalah  Saya pikir beberapa orang terlalu takut atau sesuatu untuk berpikir hal-hal yang berbeda. Saya kira itu sulit bagi beberapa orang yang terbiasa untuk berpikir dengan cara mereka, meskipun mereka sadar, ada yang harus diubah. Dan mereka menyerah. Ketika mereka melakukannya, merekalah yang kehilangan atau rugi. Dapat disimpulkan bahwa banyak dari kita takut untuk berubah dan memulai sesuatu yang berbeda yang  mungkin dapat merubah lingkungan kita. Namun rasa tersebut hanya muncul diawal sehingga harus kita lawan agar perubahan dapat kita gapai dan juga bermanfaat bagi diri kita dan lingkungan.

Membantu sesama itu sebenarnya mudah namun kadangkala kita enggan membantu sesama dan menjadi sulit dilakukan karena takut untuk melakukannya. Entah karena pendapat lingkungan, resiko dimanfaatkan, reaksi orang, bahkan jika yang akan dibantu adalah orang asing. Namun apakah kita harus berhenti disitu dan tidak melakukan apa-apa. Sehingga perlu dipikirkan lagi apakah hal tersebut sia-sia apakah menimbulkan kerugian yang besar bagi kita. Usaha adalah lebih penting daripada hasil. Dalam hal ini kita perlu menyadari bahwa perubahan sekecil apapun akan memberikan dampak yang berarti. Karena siapa tahu langkah kecil kita akan dapat mengubah hidup seseorang.

  1. Yang dapat diterapkan dalam lingkungan keluarga dan lingkungan kerja.

Dari film “Pay it Forward” banyak contoh yang bias diterapkan di lingkungan keluarga dan lingkungan kerja. Contohnya di dalam lingkungan keluarga kita bisa menerapkan keseharian konsep pay it forward kepada anak-anak kita. Dimulai dari diri kita untuk melakukan perbuatan nyata untuk dicontohkan terhadap anak-anak kita. Sehingga anak-anak kita secara tidak langsung melihat dan meniru apa yang kita kerjakan sehari-hari dari perbuatan yang positif. Kemudian di lingkungkan kerja yaitu melakukan suatu pekerjaan tanpa suatu tuntutan sehingga meganggap pekerjaan tersebut adalah suatu hak kita. Dan dengan menganggap suatu hak pekerjaan kita maka kita akan bekerja dengan tanpa pamrih. Dan kita bisa memulai hal-hal yang kecil yang tidak biasa dilakukan oleh kita sebelumnya yang dapat bermanfaat bagi orang lain seperti datang lebih awal, peduli terhadap lingkungan kerja, dan menjaga kebersihan di area kita kerja dengan melakukan aksi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *